Saat ini, kami semua, teman2 Pengajar Muda, memulai perjalanan panjang. Inilah, benar-benar menjadi awal mula perjuangan kita setahun ke depan. Training 2 bulan sudah, belajar survival di Kopasus juga sudah, praktek Pengalam mengajar sudah, belajar metode kreatif pengajaran juga sudah. Semuanya sudah, amunisi untuk memberantas dan memberondong target 4 bidang tugas. Bismillah, kami berpekik dalam hati.
Kali ini perjalanan tak lengkap. Teman kami yang bertugas di MTB (Maluku Tenggara Barat) dan Bawean, sudah berangkat duluan. Namun, suasana haru yang dirasa tetap sama. Entah perasaan apa ini. Dada berdebar-debar, otak sebelah kanan merasa senang cemerlang, sebelah sisi lainnya sedikit berat. Fuiih, nano-nano sekali, disamping itu, aku pun merasakan dagdigdug tak karuan. Alloh… Titip temen-temanku ini semua yaa…
Ruangan handayani dipenuhi kerabat-kerabat pengajar muda yang hendak mengantar kepergian sang pujangga kehidupan. Ada pemandangan wajar tapi tetap mengasyikkan, ratusan carrier, travel bag, kardus, pelampung, menyusun semangat keberangkatan kami. Elf bernomor 1, 2, 3 berseragam pula dengan bus 1, 2, 3, menambah semarak derap perjalanan kita ke muara sentosa. Aku siaaap, tidak siaaap, aku tetap tegap menghadap sang laksamana pengembara.
Lagu-lagu juleha, yell-yell selama di Kopasus, lagu angkatan yang ceria akan selalu menjadi pemersatu langkah kita bukan? Inilah niat kami, para pemuda-pemudi negeri pemberani. Kami datang, hidup di pelosok-pelosok negeri, mencoba mengenali jati diri negeri kami. Indonesia yang haqiqi dengan kekayaannya yang melimpah hingga kini. Saksikanlah ya Robb, berkahilah ya Ghoffur, terangilah Yaa Nuril Qolbu. Kami berangkat menjemput hadiah MU.
Langkah kami memang tak sekilat pahlawan-pahlawan pendiri negeri ini, tak seheroik pejuang-pejuang bambu runcing, pula tak semulia abdi-abdi negara jaman purba. Biarpun tak mampu menyamai, biarpun hanya langkah-langkah kecil. Tapi kami meniatkan diri untuk negeri tercinta ini! Selain menepati janji kemerdekaan, kamipun berusaha menggapai mimpi-mimpi orang tua kami. Manakala dulu melahirkan kami. Orang tua kami menulis dengan serius, Semoga kelak anak kami menjadi orang yang sholeh, dan mampu berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Bismillah, mungkinkah yang kami lakukan ini bagian dari pengabdian kepada negara?!