Nah inilah mereka, keluarga angkat saya. hostfam. beberapa waktu lalu, aku udah pernah posting foto-foto mereka. nah, ini versi lengkapnya laaah. kurang lengkap sebenarnya, adasatu kakak perempuan dan adik perempuan yang sampai sekarang belum berhasil membidik gambar mereka.
Alhamdulillah, paket komplit lah, hidup sama mereka. Seneng aja, mereka udah nggak menganggap aku sebagai orag baru atau tamu. udah dipersilahkan bikin minum dan ambil-ambil sendi di 3 bulan pertama (kalau nggak salah).
kawatirnya udah mulai berlebih kalau mungkin aku agak kurang enak badan. haha, agak gimana ya rasanya. udah ngerasa biasa aja kalau emang gak ada lauk untuk dijadikan teman makan nasi. ada papeda, ya makan aja. sagu apalagi. senggoli atau suami (nama makanan ya) juga sikaaat aja bareng2.
kalau dulu, tanya-tanya dulu,”pak guru bisa makan senggoli kah?” Hehehe… khawatir aku nggak doyan atau muntah makan makanan papua. padahal ya sama aja.
Beruntung banget, aku punya perut yang sangat demokratis. bisa menerima apapun jenis makanannya asal halal. dari yang awalnya nggak di suka, juga sekarang mulai suka. aneh! hampir 20 tahun lebih aku nggak suka sambel atau makanan pedes. nah, disini kok bisa-bisa perut jadi nyaman2 aja sama sambel pedes!!! ckckckck…
Alhamdulillaah, perutku juga ternyata memiliki karakter pancasila juga ya, hahaha. apa adanya dan sangat toleran terhadap apapun bentuk dan jenis makanannya. ckckck…. Subhanallah de ahh
Sekolahan kami… Terdiri dari 3 bangunan lokal (3 ruang kelas untuk belajar), 1 ruang kantor untuk kepsek dan guru-guru, 1 perpustakaan yang barru banget dibuat, 2 unit rumah guru lengkap dengan kamar mandinya (alhamdulillaaaah), dan 1 bak penampung air.
Lapangan di depan cukup luas. Ya, leluasa lah untuk bermain sekitar 40-an anak-anak sekolah. Bisa main bola, benteng, cakram, kelereng, atau apa ajalah sesuka mereka. Kadang ada juga rusa yang nangkring di halaman, ikut bantu bersihin rumput! lumayan laaaah….
Dari bangunan ini, aku mencoba mengenal satu-satu keluguan anak-anak. Sopannya mereka di balik tingkahnya yang luar biasa aktif. Jujurnya mereka di balik pukulan-pukulan dan makian terhadap sesama temannya, tulusnya mereka dibalik sapaan ‘selamat pagi’ kepada gurunya. Hehehe…
Kalau ada sepasang kekasih yang mendaulat pantai sebagai tempat romantis mereka. Aku mendaulat bangunan ini sebagai saksi sejarah, timbulnya cinta romantisme antara guru dan murid-muridnya. Eh, kadang mereka tak menganggapku guru, tapi kakak! Atau bahkan teman! aaahhh…. kisah cinta di sekolah ternyata memang ada, nggak cuma di sinetron-sinetron murahan aja! ups :D
Sedikit aja, aku bocori keadaan kampungku. Ada yang bilang, kadang gambar menipu. Ya, itu terserah dari pribadi masing-masing ya….
Kalau boleh saya jujur, keadaan alam di Papua, terutama di tempat saya sekarang tinggal ini, memang bagus. bagus banget!
Kalupun ada yang jelek, itu adalah ulah manusia di dalamnya. Tapi, alhamdulillah, kalau ditanya, apakah bisa dinikmati?? jawabnya, BISA BUaaaaaanggeeeettt!!!!!!
Kalau, kata orang, misal kita lagi jatuh cinta, itu rasa-rasanya pengen senyum-senyum sendiri! Aku percaya dengan mereka yang bilang begini.
Nah, kalau ngeliat pemandangan di Urat, itu senyum-senyum sendirinya itu bisa aweeeet banget. Lagi sendiri atau bareng sama siaapaa gitu, juga bisa tetep senyum.
Oalaaaaaa dalaaaah… kayaknya kulo nembe kemawon dawah trisno, alias jatuh conta sama kampung ini, sama anak-anak disini, sama orang-orang disini!!! Ckckck, lha pantes kadang bisa senyum-senyum sendiri……
Keindahan memang bisa membuat kita jatuh cinta. Seperti cinta pada pandangan pertama, aku yakin itu ada! Seperti cinta yang aku rasakan pada waktu itu, saat melihatmu… melihat budi baikmu :)
Sebuah editan foto yang tertinggal dan tercecer di file laptopku. Tadinya, tentu foto ini mau kuposting saat Indonesia merayakan hari pendidikan Nasional 2 Mei kemarin. Merayakan? memangnya kemarin Indonesia merayakan ya??? hahaha atau jangan-jangan, malah banyak orang yang nggak ‘ngeh’ tanggal 2 Mei adalah hari pendidikan.
Bagiku nggak terlalu penting lah sebauah perayaan. Sekarang ini euforia peringatan-peringatan hari tertentu justru sering meninggalkan makna hakikinya. Ironis, yang ada hanya untuk formalitas, kalau boleh saya cari istilah lain adalah, kebutuhan eksistensi. Hahaha, entahlah, nyambung atau tidak.
Tapi,satu kallimat dalam foto tersebut, setidaknya benar-benar satu pesan yang ingin saya sampaikan. Bukan karena saya ingin menebarkan kelesuan atau semangat pesimisme membangun. Justru semoga sebaliknya! Akan ada orang-orang yang jauh lebih peduli bertindak (tak hanya memikirkan) nasib mereka.
Tak heran, jika suatu daerah ingin merdeka sendiri-sendiri, karena barangkali di negerinya sendiri dia merasa terjajah. Seperti seorang remaja yang sedang mencari jati diri, kadangkala kita ingin bebas melakukan apap saja bukan? Jadi memang kebebasan dan kemerdekaan adalah mutlak adanya bagi setiap nyawa yang masih berhembus.
Aduh, kok bahasaku terasa terkesan serius banget. Intinya, Selamat malam ya! Selamat melakukan hal-hal yang bermanfaat. Salam :*
Inilah keluarga angkat saya. Yaaa, pengganti keluarga kandungku di rumah. Sama-sama baik, sama-sama sayang padaku (lha kok PD, ben tho ya…). Hahaha
Kalau diingat-ingat lagi, setahun memang cepat berlalu. Alhamdulillah sudah banyak hal-hal menakjubkan yang aku dapatkan dari mereka.Iya,beneran aku belajar banyak dari mereka.
Siapa sangka, kala mama piaraku juga samakhawatirnya dengan ibu di Pekalongan. Haha, terlihat banget pas malam-malam aku main-main di pantai, cuma mau lihat orang lobi (nombak ikan malam-malam).
“pak Guru, jangan ke panti (baca : pantai), ulaaar ulaaar banyak!” Hehehe…
atau ketika mau pergi penggayung sendirian ke pulau telepon, “Pak guru jangan pi (pergi) sendiri e, ajak satu anak dulu!” Aku tersenyum lagi.
Bapak piara, sama kocaknya dansabarnya dengan bapak di rumah. Selalu ada canda dan kekocakan ketika cerita. mob-mob-nya bapak piara ini yang kadang membuat tak selesai ketawa. Ckckck
Sodara-sodara yang juga sama perhatiannya. *menghela nafas panjang* Sebentar lagi aku akan jauh dari mereka. Sama halnya ketika setahun yang lalu aku pergi dari rumah untuk ke Papua. Ada sesuatu yang mendesak, nyundul-nyundul di dada!
Ya Allah, doa yang sama ketika aku pergi dulu dari Pekalongan ya, jaga keluargaku di Papua ya Alloh. Dekatkan mereka pada Mu, dan ingatkan mereka untuk Mengingat Mu….
Menghitung hari menuju kepulangan ke Jawa
4 Juni 2013, 17.00 WIT